Uang Jajan Sekolah

Posted by:

|

On:

|

Masih ingat gak sih berapa uang jajan kalian waktu masih sekolah? Atau ada yang masih ingat apa saja yang kalian beli dengan uang jajan tersebut? Banyak sekali kenangan masa kecil dan masa remaja tentang uang jajan. Bahkan tidak sekedar itu, ada banyak pelajaran dan hal yang baru kita sadari ketika dewasa mengenai berharganya nilai uang jajan kita saat kecil. Bahkan gw sendiri di saat dewasa ini jadi sadar mengapa orang tua gw memberi uang jajan yang sangat sedikit. Gw bukan tumbuh dari keadaan orang tua yang berada. Mungkin keadaan keluarga gw saat itu bisa dikatakan SSS (Sangat Sederhana Sekali). Apalagi gw sudah ditinggal sosok bapak sejak kecil. Pastinya berat sekali keadaan ibu yang harus membiayai anak-anaknya. Oleh karena itu gw gak pernah mengeluh berapapun uang jajan yang ibu berikan untuk gw. Bahkan kalau tidak diberikan uang jajan pun gw akan mengerti dan selalu prihatin dengan keadaan.

Uang Jajan SD

Waktu SD, gw mendapat uang jajan sebesar Rp.500. Di tahun 90-an menurut gw itu sudah sangat cukup walaupun banyak di kalangan teman-teman sekelas gw yang uang jajannya 3 kali lebih banyak dari gw. Tapi dengan sifat gw yang sangat prihatin dengan keadaan orang tua, gw sudah sangat bersyukur. Dengan uang jajan segitu gw sudah bisa membeli bihun dengan saus kacang seharga Rp. 200, snack mie Anak Mas seharga Rp. 200, dan sisanya yang Rp.100 bisa gw belikan mainan BP (Bongkar Pasang). Gw ingat sekali setiap hari gw selalu membeli mainan tersebut. Mainan bongkar pasang boneka kertas lengkap dengan baju-bajunya yang lucu. Pulang sekolah selalu gw mainkan sendirian di rumah. Bermain rumah-rumahan dengan barang seadanya. Bungkus rokok gw jadikan tempat tidur, alat tulis gw jadikan sekat-sekat kamar, dan penghapus gw jadikan kursi.

Uang Jajan SMP

Waktu gw menginjak sekolah SMP, sekolah gw cukup jauh dari rumah sehingga gw harus berangkat ke sekolah naik angkutan umum. Karena hal ini gw mendapat uang jajan lebih banyak daripada saat gw masih SD. Saat itu gw mendapat uang jajan sebesar Rp. 3000. Uang sebesar itu bagi gw sudah lebih dari cukup untuk ongkos gw ke sekolah. Naik angkutan umum satu jalan saat itu masih Rp. 500, jadi pulang pergi gw menghabiskan uang sebesar Rp. 1000. Sedangkan sisa uangnya sebesar Rp. 2000 bisa gw belikan batagor seharga Rp.1000, martabak tahu seharga Rp. 500, dan tahu isi seharga Rp. 500. Sedangkan untuk minum, gw biasa membawa botol air dari rumah. Jadi hemat kan. Bahkan saat itu gw sering hanya membeli 2 buah martabak tahu dengan saus sambal seharga Rp. 1000. Sehingga sisa uang yang Rp. 1000 bisa gw tabung. Huhuhu memang segitu memprihatinkannya gw di saat teman-teman sekelas gw mendapat uang jajan Rp. 7000- Rp.15.000 per-hari dari orang tua mereka.

Uang Jajan SMA

Kalau kata orang masa-masa SMA adalah masa-masa indah. Bagi gw itu sebaliknya. Karena di saat itu gw harus mencari uang sendiri. Gw gak bisa minta uang ke orang tua karena gw sadar keadaan ekonomi orang tua gw yang kesulitan. Bahkan sekolah saja gw mendapat beasiswa full. Saat SMA gw bekerja menjual gorengan dan pulsa. Bahkan gw menjual pulsa sepulang sekolah bersama adik gw sampai malam. Lho kok jadi curhat!

Waktu SMA gw menghabiskan kurang lebih Rp. 7000 per-hari. Dikarenakan gw harus dua kali naik angkutan umum ke sekolah. Sekali naik angkutan umum saja menghabiskan Rp. 1000, pulang pergi berarti harus 4 kali naik angkutan umum. Sisa uang yang Rp.3000 biasanya gw jarang gunakan. Paling gw habiskan untuk membeli Nutrisari jeruk seharga Rp. 1000. Sisa uang yang Rp. 2000 gw simpan untuk dikumpulkan buat membeli buku bekas atau majalah remaja kesukaan gw (itupun gw beli bekas,edisi satu bulan yang sudah lewat seharga Rp. 5000). Lho memang Deris gak lapar? Waktu SMA gw selalu membawa bekal dari rumah kok. Jadi jangan khawatir kalau gw kelaparan ya..

2 responses to “Uang Jajan Sekolah”

  1. Wah.. bicara masa-masa sekolah emang tiada habisnya, bahkan sampai pada uang jajan. Kurang lebih sama penulis, keluarga saya juga bisa dikatakan sederhana dan cukup. Jadi, perihal kebutuhan rumah tangga(RT) pasti Ibu yang menjadi Ratunya. Seingat saya, uang jajan SD, 500/hari. Itu berlangsung kelas 1 hingga kelas 3, karena kelas 4 saya pindah sekolah ke Medan yang sebelumnya di Lhokseumawe, Aceh, dikarenakan konflik GAM dan RI. Kemudian, saya melanjutkan sekolah dan menamatkan SD di Belawan, Medan. Lanjut SMP, masuk ke SMP Swasta di Kota Medan. Uang saku saat itu naik 10x lipat menjadi 5000 rupiah. Saat itu di Medan, saya naik angkot dari rumah ke sekolah pulang-pergi menghabiskan 2000 rupiah dan uang jajan 3000 rupiah, namun tidak dihabiskan semuanya, kadang sisa 1000 atau 500 untuk ditabung. Pas, SMA uang jajan naik lagi menjadi 10.000 rupiah/hari, dimana saat itu 2005 ongkos angkot sudah naik menjadi 2000 rupiah untuk sekali jalan buat anak sekolah. PP (pulang-pergi) sudah habis 4000 rupiah, sisa 6000 buat jajan dan ditabung. Syukur, Alhamdulillah saya tidak pernah merasa kurang, disaat kawan-kawan saya mungkin uang jajannya bisa 2x atau 3x lipat dari saya. Selama kita mengelola uang dengan baik, InsyaAllah cukup dan bahkan tabungan kita bisa dibelikan sesuatu ketika naik kelas berikutnya. 😊🙏🏽

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *