Tragedi Nyabutin Alis

Posted by:

|

On:

|

Sebagai anak introvert yang tidak suka keluar rumah dan kurang suka berkumpul dengan teman-teman di masa internet belum seterkenal sekarang, gw cuma punya dua hiburan. Yang pertama adalah mendengarkan radio dan yang kedua adalah membaca majalah cewek remaja. Setiap hari cuma membolak-balik lembaran majalah yang isinya cuma rubrik tips kecantikan, fashion, dan gosip selebritis internasional. Sampai hapal setiap lembar demi lembar rasanya.

Di usia 14 tahun, dimana di usia tersebut sudah mulai tumbuh benih-benih pubertas dan rasa centil yang menggelora di jiwa. Rasanya ingin sekali menjadi menarik seperti para cewek-cewek yang gw lihat di majalah. Ingin rasanya “dilirik” cowok-cowok. Ada satu rubrik di majalah yang menarik perhatian gw. Yaitu rubrik tentang merapihkan alis. Merapihkan alis bukan dengan cara melukisnya dengan pensil. Tapi dicabuti menggunakan pinset. Iya benar dicabuti hahahaha. Sebenarnya membayangkan mencabuti satu lembar alis saja sudah membuat gw meringis. Apalagi mencabuti alis sampai rapi dengan kondisi dimana alis gw itu sangat tebal. Bahkan alis gw itu nyambung (monobrow).

Dengan tekad yang kuat untuk menjadi cantik dan menarik,akhirnya gw beranikan diri untuk mencoba merapihkan alis yang tebalnya bagaikan pagar kabupaten ini. Bermodal pinset,cermin,dan tutorial yang ada di majalah akhirnya dimulailah peristiwa pencabutan alis . Dimulai dengan alis sebelah kanan yang gw cabuti pelan-pelan yang hasilnya lumayan untuk pemula. Walaupun rasanya benar-benar pedih sampai mata gw keluar air mata. Lalu dilanjutkan dengan alis mata yang sebelah kiri. Namun setelah selesai, gw melihat di depan cermin seperti ada yang aneh. Alis mata kanan dan kiri gw tidak simetris hahaha. Akhirnya gw perbaiki lagi dan hasilnya alis gw benar-benar runcing dan menukik seperti tokoh anime Hanamichi Sakuragi di film Slamdunk.

Dengan menguatkan mental dan mencoba menghibur diri dengan bilang dalam hati ” Alis gw keren kok, Ini tuh alis Dian Sastro”, akhirnya gw benar-benar percaya diri dan keluar kamar. Gw mencoba beradaptasi dengan alis gw yang “cantik” ini. Ibu gw yang melihat gw hanya melirik dan tidak bicara apapun. Mungkin dia mengerti bahwa gw sudah mulai tumbuh dewasa. Namun bencana awal dimulai saat ibu menyuruh gw untuk menjemput adik gw yang sedang liburan di rumah tante gw di Bekasi. Gw yang jumawa dengan alis baru ini pun akhirnya pergi dengan bangga dan merasa menjadi gadis paling cantik dengan bentuk alis seperti ini. Sesampainya di rumah tante gw di Bekasi, kakak sepupu gw yang cewek tertawa terbahak-bahak melihat alis gw. Dia bilang alis gw mirip alis aktor di film kungfu yang bentuknya menukik tajam. Gw sudah mulai tidak percaya diri dan melihat ke cermin terus menerus. Lalu di saat gw sedang “down” muncul abang sepupu gw yang dengan wajah penasaran lalu melihat wajah gw dari dekat dan dia pun tertawa terbahak-bahak. Dia bilang alis gw mirip Hanamichi Sakuragi. Dia berkata ” Ya ampun dek, itu alis nyontoh di komik Slam Dunk ya. Hahahaha”. Tidak cukup di situ, tante gw yang melihat alis gw pun ngomel-ngomel sambil berkata ” Masih kecil udah genit bentuk-bentuk alis segala. Sudah mana alisnya mirip golok Pattimura”.

Di saat down seperti itu akhirnya gw memberanikan diri mengetuk pintu kamar kakak sepupu gw yang paling sulung. Kebetulan dia sudah pulang dari kantor. Dengan menangis, gw meminta supaya alis gw dibentuk ulang dan dirapihkan. Kakak sepupu gw ini akhirnya dengan rasa iba dan menahan tawa mau merapihkan alis gw yang seperti Hanamichi Sakuragi ini. Tak berapa lama gw keluar dari kamar kakak sepupu gw dengan rasa sombong lalu memamerkan alis gw yang mirip alis para gadis sampul ini ke hadapan abang dan kakak sepupu gw yang lainnya. “Lihat dong alis Deris,sudah bagus kan sekarang!”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *